Kamis, 18 Oktober 2012

Buku Kesaksian Tragedi Talangsari Lampung Diluncurkan


Senin, 30 April 2007 20:31
Kapanlagi.com – Peluncuran buku “Talangsari 1989, Kesaksian Korban Pelanggaran HAM Peristiwa Lampung” karya Fadilasari, jurnalis yang juga mahasiswa pasca sarjana Universitas Lampung (Unila), nyaris ricuh antarkelompok pro dan kontra islah (damai).
Usai peluncuran buku terbitan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), di Kampus Unila, di Gedongmeneng-Bandarlampung, Senin, berlanjut dengan diskusi publik dengan tema “Prospek Penegakan Hukum Kasus Pelanggaran HAM Talangsari”.
Dalam diskusi dengan moderator H Ibnu Khalid, Pimpinan Harian Umum Radar Lampung yang juga Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung, pada sesi tanya jawab dan dialog, mencuat kembali perbedaan pandangan yang tajam antara kelompok pro dan kontra islah Talangsari itu.
Kebetulan pada acara hadir para korban dan pelaku Talangsari yang terjadi pada 7-8 Februari 1989, delapan belas tahun lalu, yang masih hidup dan kini tinggal tersebar di berbagai tempat di luar Lampung maupun bertahan di Provinsi Lampung.
Kelompok Kontra islah korban dengan mantan Komandan Korem 043 Garuda Hitam Lampung pada saat kejadian, AM Hendropriyono (mantan Kepala BIN) yang dimotori Azwar Kaili merasa tersinggung dengan tanggapan peserta dialog, Widagdo, antara lain karena mengungkit kembali adanya oknum yang dituduh mengeksploitasi dan “menjualbelikan” tragedi itu bagi kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Padahal dalam forum itu juga hadir kelompok pro islah, Sudarsono, Sukardi, dll. yang menganggap persoalan Talangsari telah selesai dan ditutup yang tidak akan dipersoalkan mereka lagi.
Sempat terjadi aksi emosional diantara mereka, dengan saling berteriak tidak puas sambil berdiri dari tempat duduk masing-masing untuk saling merangsek. Padahal saat itu Koordinator Kontras, Usman Hamid tengah menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Moderator dan panitia hampir tak dapat mengendalikan kericuhan itu.
Kekisruhan sempat terjadi beberapa saat dan nyaris berlanjut secara lebih buruk.
Namun sejumlah tokoh dan panitia termasuk moderator berkali-kali berusaha menenangkan mereka yang terlibat pertikaian pendapat itu.
Akhirnya kericuhan yang lebih buruk dapat dicegah, sehingga acara dialog tetap diteruskan sampai tuntas.
Justru pada akhir dialog terjadi saling berangkulan dan bersalaman antarkelompok korban Talangsari itu, antara Sukardi dan Sudarsono dengan Azwar maupun Jayus, termasuk Widagdo.
Tampil sebagai pembicara adalah penulis buku Fadilasari, Koordinator Kontras Usman Hamid, dosen Fak. Hukum Unila Syafrudin, dan salah satu tokoh Talangsari, Jayus.
Fadilasari menyatakan, buku itu merupakan bahan skripsinya saat kuliah di FISIP Unila yang sempat tersendat proses untuk menjadi buku sejak beberapa tahun lalu, sehingga baru sekarang dapat diterbitkan.
Dia mengaku berusaha untuk menampilkan kesaksian korban beserta faktanya dalam tragedi Talangsari secara berimbang, untuk dapat diketahui secara jelas dan mendorong para pihak mengambil langkah penyelesaian hukum secara adil dan tuntas. (*/rsd)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar